Tugas Jurnalistik Online : Oplah vs Rating vs Trafik (kelompok 1)
MAKALAH JURNALISTIK TV dan RADIO
“ OPLAH vs RATING vs
TRAFIK “
Disusun oleh:
Achamd Firdaus (5.16.03.05.0.001) tidak berkontribusi
Anis Fitriana
Dewi (5.16.03.05.0.005)
Diah Aulia Kartikasari (5.16.03.05.0.014)
UNIVERSITAS ISLAM
MAJAPAHIT
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
2018
DAFTAR ISI
Cover
Daftar Isi............................................................................................................................ 1
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang................................................................................................................... 2
B.
Rumusan
Masalah............................................................................................................. 3
C.
Tujuan
................................................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
a.
Oplah...................................................................................................................... ............ 4
b.
Rating................................................................................................................................. 5
c.
Trafik................................................................................................................................. 6
BAB III PENUTUP............................................................................................................ 8
Daftar Pustaka................................................................................................................... 9
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Teknologi informasi dan komunikasi
mengalami peningkatan secara pesat. Perubahan yang luarbiasa pada teknologi
turut mempengaruhi perkembangan industri media massa. Media merupakapkan alat perantara bagi manusia untuk
mengakses sebuah informasi. Mengapa harus melalui media? Karena manusia
memiliki batasan-batasan apabila tidak mengakses informasi melalui media sepeti
halnya, keterbatasan jarak. Tidak mungkin kita yang berada di Jombang tahu
mengenai keadaan di Mojokerto apabila tidak berada di lokasi langsung atau
menunggu kabar dari orang lain yang disampaikan secara langsung, dan media
mempermudah hal itu dengan menyajikan informasi tanpa kita harus berada
ditempat tersebut dengan perbedaan waktu yang singkat jadi informasi yang
disajikan tidak basi. Apabila manusia tidak mengakses informasi melalui
media maka dapat dipastikan bahwa dia
akan ketinggalan berbagai macam informasi.
Ada berbagai macam
media seperti, media cetak, media televisi, radio dan juga saat ini ada
media online yang banyak digemari oleh masyarakat. Media-media tersebut
menjadi sumber informasi yang banyak di akses oleh masyarakat setiap harinya.
Namun dengan banyaknya media yang berkembang saat ini tentu menimbulkan banyak
persaingan antar media sendiri. Perlu adanya data pengukuran untuk mengetahui
seberap besar respon masyarakat akan media tersebut untuk mengetahui persaingan
yang ada. Dengan persaingan media yang begitu ketat, tentu membuat para pemilik
media harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini. Seperti halnya media
televisi yang kini merambah dunia internet dengan menghadirkan siaran web live
streaming, portal berita versi web, channel youtub dan lain-lain. Begitupula
dengan media cetak semisal koran. Koran konvensioanl yang dulu hanya bisa kita
baca versi cetak dan kita harus membeli secara eksemplar, kini kita bisa
membaca secara gratis melalui kanal-kanal portal berita terkait. Untuk
mengetahui seberapa besar jumlah khalayak yang mengakses informasi dari media
ada tiga jenis alat ukur untuk mengetahui jumlah khalayak, yaitu oplah yang
dijadikan untuk mengetahui jumlah pembeli koran, kemudian rating digunakan oleh
telvisi untuk mengetahui prosentase jumlah penonton yang melihat program siaran
yang telah berlangsung, sedangkan trafik digunakan oleh media online untuk
mengatahui seberapa besar pengunjung yang sudah mengakses situs-situs web atau
portal berita yang jamak disebut sebagai visitor.
Sumber
berita sudah pasti memiliki news value yang sangat tinggi. Hal positif memang
menarik, namun berita negatif cenderung jauh lebih dinikmati khalayak ramai.
Untuk kalangan media, pemeberitaan negatif mampu menaikkan rating (untuk
televisi), meningkatkan trafik (untuk situs berita), dan mendongkrak oplah
(untuk media cetak).
B. Rumusan
Masalah
a.
Apa
yang dimaksud dengan oplah?
b.
Apa
yang dimaksud dengan rating?
c.
Apa
yang dimaksud dengan trafik?
C. Tujuan
a. Untuk
mengetahui apa itu oplah.
b. Untk
mengetahui apa itu rating.
c. Untuk
mengetahui apa itu trafik.
BAB
II PEMBAHASAN
A.
OPLAH
Di
Negara-negara
Barat,
pers disebut sebagai kekuatan yang keempat, setelah kaum agamawan, kaum
bangsawan, dan rakyat. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Thomas Carlyle
pada paruhan pertama abad ke-19. Hal ini menunjukkan kekuatan pers dalam
melakukan advokasi dan menciptakan isu-isu politik. Karena itu tidak
mengherankan bila pers sering ditakuti, atau malah "dibeli" oleh
pihak yang berkuasa. Di Indonesia, pers telah lama terlibat di dalam dunia
politik. Di masa penjajahan Belanda pers ditakuti, sehingga pemerintah
mengeluarkan haatzai artikelen, yaitu undang-undang yang mengancam pers apabila
dianggap menerbitkan tulisan-tulisan yang "menaburkan kebencian"
terhadap pemerintah.
Pada
masa Orde Lama banyak penerbitan pers yang diberangus oleh Presiden Soekarno.
Namun bredel pers paling banyak terjadi di bawah pemerintahan Soeharto.
Akibatnya banyak wartawan yang harus menulis dengan sangat berhati-hati. Atau
sebaliknya, wartawan menjadi tidak kritis dan hanya menulis untuk menyenangkan
penguasa. Kondisi demikian berubah menjadi lebih positif, setelah munculnya
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 yang menjamin kebebasan pers. Oplah dikenal ada industri media cetak
semisal koran,majalah atau surat kabar. Oplah
adalah banyaknya orang yang membeli Koran. Semakin banyak oplah tentu akan semakin
banyak pendapatan yang diperoleh perusahaan media cetak. Hukum terebut juga berlaku untuk spot
iklan yang ditawarkan,semkakin tinggi oplah media cetak ,artinya semakin tinggi
tingkat pembaca, harga
slot iklan pun akan mengikuti. Ilustrasi
sederhana yang tentu sangat mudah di pahami.
Dari
tabel diatas, data yang diambil dari tahun 2008 sampai dengan 2015 pertumbuhan media cetak tidak menunjukkan hal
yang bagus, terjadi ketidakstabilan pertumbuhan setiap tahunnya. Adapun
peningkatan tapi tidak menunjukkan angka yang signifikan.
B.
RATING
Rating
adalah jumlah penonton atau pesawat televisi yang memilih channel tersebut
per-seribu orang.Penjelasan mudahnya begini ,jika sebuah program berating 15
maka yang menonton program tersebut adalah 15.000 orang atau pesawat televisi
yang menyaksikan acara tersebut. Sedangkan Share adalah persentase orang atau
pesawat televisi yang memilih untuk menonton program tertentu pada jam atau
waktu tersebut.Contoh mudahnya,pada jam 1 siang ada program berita A dengan
share 20, program gosip B share 30 dan program sport share 50. Artinya program berita A mendapat 20 persen
penonton pada jam 1 siang, Program Gosip B mendapat bagian 30 persen penonton
dan Program Sport C mendapat 50 persen penonton pada jam 1 siang. pertanyaanya,Bagaimana
pihak televisi mendapatkan datanya? Sampai saat ini setiap stasiun TV membeli
datanya dari akuntan publik AC. Nielsen. Data tersebut diolah sedemikian rupa
dengan metode yang tentu sudah teruji valid sehingga memudahkan pemetaan
program televisi berdasarkan rating dan share. Semakin tinggi rating dan share
sebuah program atau tayangan televisi,tentu akan berbanding lrus dengan harga
iklan yang ada di
sela sela acara tersebut.
Rumus
:
Rating
= jumlah penonton suatu program/ jumlah universe X 100%
Share
= jumlah penonton suatu program / total penonton TV di saat bersamaan X 100%
Nb
: AGB Nielsen Media Research membagi populasi data pada 2273 rumah tangga
koresponden yang tersebar di 10 kota besar di indonesia (jakarta, bandung,
semarang, yogyakarta, surabaya, medan, palembang, makasar, banjarmasin dan
denpasar).
C.
TRAFICT
Istilah
ini dikenal di media online untuk
menyebut banyaknya pengunjung website atau portal berita yang jamak disebut
sebagai visitor. Hampir
sama dengan penonton televisi dan pembaca koran,visitor juga menjadi faktor yang sangat penting dalam industri
media online. Semakin banyak
visitor atau pengunjung pada portal media,tentu akan menaikan “elektibilitas”
media tersebut. Hal
tersebut juga berbanding lurus dengan harga slot iklan yang ditawarkan. Semakin
tinggi trafik sebuah media online, maka
harga slot iklan yang ditawarkan juga akan semakin tinggi. Asumsinya, semakin
banyak orang yang melihat atau mengunjungi sebuah portal, maka disitu terdapat pasar yang besar
untuk memikat calon konsumen.
a. Point
of View Trafick
1. Trafik
dibangkitkan oleh pengguna sistem.
2. Sistem
melayani (mengolah) trafik yang masuk.
3. Trafik
dapat berupa panggilan yang harus dihubunkan pada jaringan telepon, paket yang
harus dirutekan pada jaringan data, request untuk web server dsb.
Kemudian
terdapat pula rekayasa trafik, yaitu dapat digunakan untuk menentukan jumlah
saluran yang ekonomis namun dapat memberikan tingkat layanan yang memuaskan
pelanggan.
b. Berbagai
jenis informasi dan karakteristiknya
1. Voice : delay sensititive, harus dikirimkan secara
real time.
2. Data
: tidak delay sensitive
3. Vidio : serupa dengan voice
c. Perbedaan
penanganan informasi dulu dan sekarang yaitu kalau dulu informasi berbeda
jaringan informasinya juga berbeda, contohnya: PTSN untuk voice, LAN untuk
data. Sedangkan sekarang berangkat informasi diangkut pada jaringan yang sama,
contohnya: voice+ web access+ vidio streaming pada IP- based network (
internet).
BAB III KESIMPULAN
Dari
penjelasan singkat diatas, tentu dapat kita tarik kesimpulan bahwa
pemirsa, pembaca, ataupun
pengunjung adalah faktor yang sangat penting dalam sebuah industri media baik
elektronik, cetak maupun online. Dengan persaingan media yang sangat ketat saat
ini perlu adanya data yang dapat memantau khalayak yang mengakses media terkait
untuk evaluasi dan peninjauan sejauh mana khalayak menikmati informasi yang
telah disajikan oleh media tersebut. Selain menjadi subjek informasi, tentu
juga dijadikan objek informasi. Maka
tak jarang, industri yang bergerak di bidang media berlomba lomba menyajikan
program yang tentunya menuruti selera penontonnya. Tak salah, apabila kita
sebagai penonton televisi, pembaca koran ataupun pengunjung portal berita harus
mempunyai nilai tawar untuk memilah dan memilih media yang akan kita jadikan
rujukan informasi di tengah menjamurnya industri media saat ini. Jangan mau
terbawa arus media yang hanya mementingkan rating, oplah, ataupun trafik/visitor
dengan mengabaikan konten yang mendidik. Bisa jadi kita hanya dijadikan obyek
untuk mengeruk keuntungan dari bisnis konten mereka.
DAFTAR PUSTAKA
aziz.(2018).
RATING, OPLAH DAN TRAFIK DALAM INDUSTRI MEDIA
Hetiana,
sofia naning. Diklat Rekayasa Trafik jurnal of sekolah tinggi teknologi Telkom
Kristalina,
Prima.(2016). Konsep dan teori trafik journal of PENS



Komentar
Posting Komentar