TUGAS JURNALISME ONLINE: FENOMENA CLICKBAIT DI MEDIA ONLINE (KELOMPOK 3)


MAKALAH
FENOMENA CLICKBAIT DI MEDIA ONLINE

Disusun oleh:
1.    Khoirun Nisa’                             5.16.03.05.0.023
2.    Lailatul Kurnia                           5.16.03.05.0.024
3.    Lidiant Aura Firdausa                5.16.03.05.0.026

PRODI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM MAJAPAHIT
2018

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.............................................................................. 1
B.    Rumusan Masalah......................................................................... 2
C.    Tujuan ........................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Sejarah dan pengertian ................................................................. 3
B.    Teknik Clickbait headline media online...........................................       .......  4
C.    Pandangan clickbait dalam kode etik jurnalistik................................  6
D.    Cara Mendeteksi clickbait headline............................................................ 7
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk terpadat di dunia. Dengan dukungan infrastruktur teknologi informasi yang memadai, tidak mengherankan jika warga Indonesia kemudian menjadi pengakses media digital terbesar. Fakta ini berlaku untuk semua bentuk akses media, seperti personal computer (PC), tablet, dan smartphone. Berdasarkan data dari wearesocial.org, rata-rata waktu yang dihabiskan warga Indonesia untuk mengonsumsi internet melalui komputer atau tablet adalah 4 jam 42 menit. Sedangkan rata-rata konsumsi internet warga Indonesia melalui telepon selular adalah 3 jam 33 menit (Damar, 2016).
Bila dilihat lebih jauh, hal ini kemudian memengaruhi akses warga pada media online dan tentu saja media sosial. Warga Indonesia dikenal sebagai warga yang aktif menggunakan media sosial. Ini bisa dilihat dari jumlah pengguna aktif media sosial populer seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Pada 2016, jumlah pengguna Facebook aktif di Indonesia tercatat sebanyak 82 juta orang. Sedangkan jumlah pengguna aktif Instagram sebanyak 22 juta orang (Karimuddin, 2016). Pada tahun yang sama, jumlah pengguna aktif Twitter sebanyak 24 juta orang (Katadata, 2016). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Indonesia disebut negara yang ‘berisik’ di dunia karena intensitas penggunaan media sosialnya.
Meningkatnya jumlah pengguna media sosial di Indonesia, mau tak mau membuat para produsen konten berita media online untuk beradaptasi. Dalam hal ini, mereka kemudian membuat berita untuk platform di media sosial. Tujuannya adalah untuk meningkatkan traffic atau kunjungan di situs utama media online mereka. Untuk itu, para produsen konten berita ini membutuhkan strategi yang tepat dan jitu dalam menarik perhatian pengguna media sosial untuk meng-klik dan nantinya membagikan ulang (re-share) konten berita tersebut di media sosial mereka.
Saat ini, salah satu strategi yang dilakukan secara intensif para produsen berita media online untuk kepentingan media sosial tersebut adalah dengan membuat headline yang mencolok dan sensasional. Dengan dukungan gambar visual yang juga menarik, diharapkan para pengguna media sosial ini tertarik untuk membaca konten berita di media online. Berita utama atau headline ini kemudian disebut dan lebih dikenal sebagai Clickbait Headline. Sederhananya, Clickbait Headline adalah headline yang mampu membuat pengakses media tersebut untuk mengklik berita tautan yang ada di media sosial ke situs utama mereka. Penggunaan clickbait headline ini menjadi tak terhindarkan di tengah semakin ketatnya persaingan media online. Ada dua sisi mata uang dari fenomena penggunaan clickbait headline ini. Di satu sisi, para pemilik media menuntut agar para reporter atau pembuat berita tidak hanya menghasilkan artikel yang mendapatkan Key Performance Indicator (KPI) yang tinggi untuk keberlangsungan bisnis mereka. Di sisi lain, para reporter juga dituntut memenuhi standar Kode Etik Jurnalistik.
B.    Rumusan Masalah
1.     Bagaimana sejarah dan pengertian Clickbait ?
2.     Apa saja teknik clickbait headline media online ?
3.     Bagaimana pandangan clickbait dalam kode etik jurnalistik ?
4.     Bagaimana cara mendeteksi clickbait headline ?
C.    Tujuan
Untuk mengetahui sejarah, pengertian Clickbait, apa saja teknik clickbait headline media online, bagaimana pandangan clickbait dalam kode etik jurnalistik, bagaimana mendeteksi clickbait headline media online.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah dan pengertian Clickbait
Di dunia jurnalistik Amerika dan Eropa, istilah clickbait (umpan klik yang kemudian dimaknai sebagai ‘jebakan klik’) sudah mencuat dua tahun terakhir. Terutama sejak media online The Guardian memuat artikelnya “In Defence of Clickbait”, bertebaran banyak kritik tertulis atas upaya beberapa media internasional “menjebak” pembaca mereka untuk membuka tautan berita, dengan semata-mata mengandalkan judul sensasional. Di era berita digital, istilah “jebakan klik” diartikan sebagai judul-judul artikel berita atau opini yang umumnya tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan di bagian isi tulisan. Dengan sepenuhnya bergantung pada rasa penasaran orang yang membaca judul artikel tertentu, media tidak jarang sengaja menaruh “kata-kata sakti” tertentu di bagian judul, meski terkesan berlebihan dan dianggap kebohongan, bahkan penipuan konten.
Sejak teknologi hyper-text markup language (HTML) mengakomodasi kepentingan optimasi mesin mencari yang jadi tumpuan bisnis media online, cara-cara untuk berlaku kotor dengan irelevansi judul artikel jadi semakin mudah dan viral.  Praktik “koran kuning” yang berlanjut ternyata membawa reaksi berantai di era media digital. Jika di masa pra-internet koran-koran kuning menjelajah lewat gerai-gerai tepi jalan, kereta api dan pemasaran mulut-ke-mulut, di era Google praktiknya semakin menjadi, membanjiri kanal-kanal internet dengan konten yang secara teknis membutuhkan hanya dua hal dari pembaca: akses koneksi, dan rasa penasaran (curiousity). Yang terjadi kemudian, pasar bergerak ke arah kecenderungan perilaku mental pembaca media modern ini. Ketika Anda membuka laman berita atau blog dan melihat judul yang membuat Anda penasaran, maka di situlah persuasi klik mulai bekerja. Ketika judul post terbaca mencengangkan atau sulit dipercaya, mungkin memang kontennya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Maka dinilai sebagai “bentuk paling rendah dari jurnalisme media sosial” (merujuk pada era berita internet sejak 1995), kritik terhadap jebakan klik bertumpu pada inkonsistensi media dan atau penulis berita dalam menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang sejatinya jujur, apa adanya, dan bebas dari tendensi.
B.    Teknik Clickbait headline media online
  Pada dasarnya, headline atau kepala berita adalah judul sebuah berita yang biasanya terletak di atas suatu halaman surat kabar atau majalah dan ditulis dengan huruf besar. Headline bersama gambar visual sesuai ‘nature’-nya memang digunakan sebagai elemen penting untuk menarik perhatian pembaca. Istilah headline ini juga digunakan sebagai judul suatu konten iklan dengan fungsi yang sama yakni untuk menarik perhatian Semakin terfragmentasinya industri media membuat persaingan di antara produsen media menjadi ketat. Kemudian, muncullah fenomena headline yang sensasional dan provokatif akibat persaingan yang ditimbulkan antar-produsen media berita, tak terkecuali pada produsen media berita online. Headline sensasional di media berita online ini kemudian lebih dikenal dengan istilah clickbait headline.
Ada beberapa teknik “jebakan klik” lain yang dipakai media, meski beberapa di antaranya mungkin tidak termasuk, seperti penggunaan tanda tanya (?) di akhir judul untuk berita-berita yang belum terkonfirmasi. Atau kata-kata “diduga”, “dinilai”, dan “dianggap” yang pada faktanya hanya merujuk pendapat orang atas sebuah isu atau fakta yang sebenarnya. Upaya penggiringan opini pembaca bisa mulai diungkit dari sisi ini. Kalau kata kolumnis Mediaite Luke O’Neil “tidak ada hal memalukan atau tidak etis jika berupaya sekeras mungkin menarik atensi pembaca ke artikel Anda. Hanya saja pikiran ini tidak menutup kemungkinan Anda menggunakan cara “paling licik” dari esensi penjebakan itu sendiri.”
1.     Contoh kasus :
Berdasarkan pemaparan di atas, maka terdapat dua jenis clickbait headline. Gambar 1. jenis headline ini memiliki tujuan yang sama, yakni memancing rasa penasaran pembaca untuk meng-klik berita yang tertaut pada situs berita online dan meng-klik iklan produk atau jasa yang tertaut pada situs perusahaan pengiklan. Faktor rasional yang menjadikan clickbait headline sukses adalah adanya ‘curiousity gap’, atau kesenjangan yang hilang, yang membuat penasaran pembaca ingin meng-klik tautan untuk menjawab keingintahuan mereka.


C.    Pandangan clickbait dalam kode etik jurnalistik
 Seperti halnya media tradisional, setiap perusahaan atau produsen konten berita harus berpikir untuk tetap bertahan hidup dari sisi persaingan bisnis Berbeda dengan industri lain, industri media ini dapat dilihat dari tiga ciri yang memiliki dua sisi ganda, yakni (1) produk ganda, sebagai content product dan audience product, (2) pasar ganda, sebagai consumer market sekaligus advertiser market, dan (3) misi ganda, yakni economic mission dan public mission (Hasan, 2006). Artinya, produsen konten berita sebagai sebuah industri harus mempertahankan bisnis atau ekonomi mereka dengan menjadikan audiens sebagai produk untuk menarik perhatian para pengiklan. Jika pada media tradisional, seperti surat kabar atau televisi, jumlah sirkulasi atau rating menjadi referensi bagi para pengiklan untuk memasang iklan di media mereka. Pada media online, jumlah kunjungan yang tinggi (traffic) menjadi indikator bagi para pengiklan untuk beriklan. Jumlah atensi yang diraih suatu situs biasanya diukur oleh impresi (impressions) pembaca di media tersebut. Semakin tinggi jumlah impresi pada suatu media online, maka semakin potensial eksposur dari iklan yang ada di situs tersebut. Intinya, baik media tradisional maupun media online sangat mengandalkan jumlah pembaca mereka untuk melakukan bargaining pada para pengiklan.
Fenomena clickbait headline ini tentu memunculkan dua sisi yang kadang berlawanan bagi reporter sebagai ujung tombak para produsen media berita online. Satu sisi, reporter memiliki tuntutan bisnis, baik dari redaktur atau dari pemilik media, untuk menarik perhatian pembaca dengan penggunaan clickbait headline-nya agar traffic-nya tinggi. Sebuah laporan yang ditulis di Columbia Journalism Review pernah mencatat sebuah kasus unik ketika penulis Slant, sebuah majalah online, memberi kompensasi 5 (lima) dolar AS kepada penulis saat artikel yang mereka buat di klik lebih dari 500 kali (Frampton, 2015). Sisi lain, reporter juga harus tetap memperhatikan Kode Etik Jurnalistik. Jangan sampai, penggunaan clickbait headline ini memanipulasi keingintahuan atau rasa penasaran pembaca, sehingga mereka merasa tertipu dengan berita yang disampaikan. Jika mengacu pada Kode Etik Jurnalistik Indonesia, pasal satu, menyatakan bahwa wartawan Indonesia dalam memroduksi berita harus memenuhi unsur akurasi, keseimbangan, dan ‘tidak memiliki niat buruk’. Penulis menggarisbawahi secara khusus pada bagian ‘tidak memiliki niat buruk’, yang berarti tidak ada niat untuk merugikan orang lain dalam hal ini reporter kepada para pembacanya (Pers, 2011). Saat ini, banyak fenomena yang muncul di mana artikel berita dengan clickbait headline ini tidak sesuai dengan ekspektasi atau harapan pembaca. Fenomena ini kemudian membuat Kode Etik Jurnalistik dalam penggunaan clickbait headline dipertanyakan. Hal ini juga dapat memengaruhi kredibilitas produsen konten berita media online.
D.    Cara mendeteksi clickbait headline
1.     Untuk pembaca, telah disediakan pilihan apakah mau melakukan klik atau tidak. Judul artikel yang semacam diatas sudah dipastikan tergolong clickbait. Dan jika menemukan judul lain yang setipe dengan itu pun, seperti tidak informatif dan informasi yang disampaikan menyimpang, waspadalah bahwa itu merupakan clickbait juga. Dan tentu saja sebaiknya tak usah di klik. Karena dalam clickbait, kalau beruntung kita memang bakal disuguhi konten yang bagus, tapi kalau apes, maka perangkat kita bakal disusupi malware yang merugikan. Jadi, kalau saya lebih memilih untuk tidak melakukan klik terhadap judul artikel yang mengandung clickbait.
2.     Kemudian untuk publisher, Facebook memang bukan segalanya dalam menyumbang traffic situs. Tapi kalau domain dan fanpage kita tercatat sebagai pelaku clickbait, saya cuma khawatir ke depannya bakal terkena imbas negatif. Untuk itu, buat yang khawatir seperti saya, sebaiknya judul artikel yang mengandung clickbait layak dihindari. Caranya?
Yang perlu dipahami sejak awal adalah dalam membuat konten, secara tidak langsung kita semua adalah jurnalis. Jadi untuk membuat judulnya pun mesti memenuhi kaidah jurnalistik. Kaidah yang dimaksud adalah untuk membuat judul yang baik harus memenuhi unsur informatif. Dalam judul itu harus sudah memuat informasi yang dibutuhkan oleh pembaca. Misalnya contoh judul-judul clickbait diatas seharusnya seperti ini:
a.     Clickbait = Pria Ini Main Pokemon GO Sambil Menyetir, Yang Terjadi Selanjutnya Membuat Terkejut | Bukan clickbait = Akibat Sopirnya Bermain Pokemon Go, Sebuah Minibus Menabrak Warung
b.     Clickbait = Wanita Ini Memakai Kosmetik Alami, Lihat Yang Terjadi Pada Wajahnya Kemudian | Bukan clickbait = Kulit Wanita Ini Mulus Karena Pakai Masker Bengkoang
c.     Clickbait = Astaghfirullah! Inilah Daftar Keburukan Koruptor, Nomor 5 Nggak Banget | Bukan clickbait = Sepuluh Dampak Buruk Korupsi
d.     Clickbait = Kamu Tak Akan Percaya Siapa Yang Terpeleset dan Jatuh di Karpet Merah... | Bukan Clickbait = Pakai Gaun Panjang, Madonna Terpeleset di Red Carpet Grammy Awards
e.     Clickbait = Buah Apel Sangat Buruk Untuk Kamu | Bukan clickbait = BPOM: Hati-Hati Dampak Buruk Apel Berpengawet







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Clickbait (umpan klik yang kemudian dimaknai sebagai ‘jebakan klik’) sudah mencuat dua tahun terakhir. Terutama sejak media online The Guardian memuat artikelnya “In Defence of Clickbait”, bertebaran banyak kritik tertulis atas upaya beberapa media internasional “menjebak” pembaca mereka untuk membuka tautan berita, dengan semata-mata mengandalkan judul sensasional. Di era berita digital, istilah “jebakan klik” diartikan sebagai judul-judul artikel berita atau opini yang umumnya tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan di bagian isi tulisan. Dengan sepenuhnya bergantung pada rasa penasaran orang yang membaca judul artikel tertentu, media tidak jarang sengaja menaruh “kata-kata sakti” tertentu di bagian judul, meski terkesan berlebihan dan dianggap kebohongan, bahkan penipuan konten.
Ketika Anda membuka laman berita atau blog dan melihat judul yang membuat Anda penasaran, maka di situlah persuasi klik mulai bekerja. Ketika judul post terbaca mencengangkan atau sulit dipercaya, mungkin memang kontennya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Maka dinilai sebagai “bentuk paling rendah dari jurnalisme media sosial” (merujuk pada era berita internet sejak 1995), kritik terhadap jebakan klik bertumpu pada inkonsistensi media dan atau penulis berita dalam menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang sejatinya jujur, apa adanya, dan bebas dari tendensi.



DAFTAR PUSTAKA

Kertanegara, M. Rizki (2018) Penggunaan Clickbait Headline pada situs berita dan gaya hidup muslim dream.co.id . Politeknik Negeri Media Kreatif
Lestari, Dwi Rani (2017) Quality News dan Popular News Sebagai Trend Pemberitaan Media Online. Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Yogyakarta)
Anindya, Chiara . Pers, Kematian, Dan Sensasionalisme: Media Event  Di Kompas.Com Dan Detik.Com . Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada


Komentar