TUGAS JURNALISME ONLINE: KONTEN SOSIAL MEDIA SEBAGAI SUMBER BERITA MEDIA ONLINE (KELOMPOK 6)
MAKALAH
KONTEN SOSIAL
MEDIA SEBAGAI SUMBER BERITA MEDIA ONLINE

Disusun
oleh:
1. Nugraha Nindya Komarudin 5.16.03.05.0.042
2. Oktavia Pangestika 5.16.03.05.0.043
3. Rakhmad Aji Kusuma 5.16.03.05.0.045
PRODI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM
MAJAPAHIT
2018
DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang.............................................................................. 3
B. Rumusan
Masalah......................................................................... 5
C. Tujuan
........................................................................................... 5
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Informasi………………………………………………............6
B.
Pengertian Jurnalistik……...........................................................................8
C.
Pengertian media social...............................................................................9
D.
Pengertian Konten………………………………………………………..10
E.
Bagaimana seorang jurnalis mem blowup berita........................................11
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan ................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA
Bab 1
Pendahuluan
A.
Latar
Belakang
Menjamurnya pengguna
media sosial hingga sampai saat ini, juga tidak lepas dari peran serta para
ahli dalam memberikan gagasan, pandangan ataupun teorinya terkait media sosial.
Beberapa gagasan ataupun teori dalam media sosial, secara sederhana dapat
berupa sebuah definisi media sosial atau pengertian media sosial. Definisi
media sosial, tidak serta merta berupa gagasan yang tidak berdasar yang
dikeluarkan oleh para ahli tersebut. Demikian adanya, media sosial memiliki
fungsi, peran, dan dampak bagi kehidupan masyarakat yang harus didesain
sedemikian rupa agar media sosial tetap pada fungsi, dan tujuan media sosial
itu sendiri, dan memiliki manfaat dalam kehidupan setiap individu. Olehnya itu,
sumbangsih pemikiran para ahli, diantaranya mengenai pengertian media sosial,
patut untuk di apresiasi dan sebagai pengguna patut berbangga dan bersyukur,
peran serta dari para ahli dalam memberikan arah teknologi mutakhir ini, media
sosial.
Jejaring sosial
merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian
terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi.
Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media
tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial
menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk
berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi
komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi internet
dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat.
Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja
dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya
orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar
terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di
Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan
peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.
Pesatnya perkembangan
media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri.
Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran
dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya
dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan social
media dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa
biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita
sebagai pengguna social media dengan bebas bisa mengedit, menambahkan,
memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content
lainnya.
Pesatnya perkembangan
media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri.
Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran
dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya
dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media
sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa
biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna
media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik
tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.
Kegiatan jurnalistik
semakin berkembang seiring berjalannya peradaban manusia. Kini dunia
jurnalistik sangat mudah untuk digapai. Menjadi seorang jurnalis tidak harus
memiliki sertifikat dari Dewan Pers seperti pada masa-masa sebelumnya. Semua
orang sudah bisa menjadi jurnalistik, tidak memandang umur atau pengalaman,
dengan mengandalkan kreativitas tulis-menulis, merangkai kata, dan menarik
perhatian, semua bisa menjadi jurnalis. Memasuki era teknologi, kegiatan
jurnalistik semakin menjamur. Apalagi kalau bukan dengan hadirnya ponsel
pintar, di mana semua informasi dan kegiatan dapat dijangkau sejauh layanan
sinyal internet.
Era teknologi yang saat
ini dipegang oleh kebanyakan orang dari Generasi Z, di mana menurut Badan
Statistik Kanada mengatakan bahwa Generasi Z adalah anak-anak yang lahir dari
tahun 1993 hingga tahun 2011, merupakan generasi yang tidak suka dengan
berita-berita yang serba tanggung dan tak memiliki pengalaman serta tidak
terbiasa dengan membaca koran atau majalah karena mereka kerap mengakses berita
dari media sosial atau portal berita internet. Dan seperti yang telah diketahui
bahwa berita-berita yang ada dalam media sosial yang dapat menarik pembaca
adalah berita yang unik serta nyaman untuk di konsumsi dan yang pasti mengikuti
perkembangan zaman. Portal
berita yang sedang populer dan paling banyak diakses banyak orang adalah Line
Today, yang merupakan fitur dari aplikasi chatting bernama Line yang
memunculkan beragam berita dan informasi terbaru yang sudah dikurasi, dan
pastinya yang membuat fitur tersebut populer adalah keringanan pembaca dalam
mengkonsumsi beritanya, serta berita-berita yang dibuat merupakan berita yang
menarik dan yang pastinya mudah untuk diakses.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Pengertian Informasi
2.
Pengertian Jurnalistik
3.
Pengertian media social
4.
Pengertian konten
5.
Bagaimana seorang jurnalis mem blowup berita
C.
Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana jurnalis dapat
memviralkan sebuah berita dan bagaimana memilih konten yang akan menjadi
perbincangan khalayak ramai.
Bab 2
Pembahasan
A.
Pengertian
Informasi
Apa yang dimaksud dengan informasi? Secara
umum, pengertian informasi adalah sekumpulan data
atau fakta yang telah diproses dan dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi
sesuatu yang mudah dimengerti dan bermanfaat bagi penerimanya. Dari definisi
tersebut dapat kita pahami bahwa kata “informasi” memiliki arti yang berbeda
dengan kata “data”. Data adalah fakta yang masih bersifat mentah atau belum
diolah, setelah mengalami proses atau diolah maka data itu bisa menjadi suatu
informasi yang bermanfaat. Tidak semua data atau fakta dapat diolah menjadi
sebuah informasi bagi penerimanya. Jika suatu data yang diolah ternyata tidak
bermanfaat bagi penerimanya, maka hal tersebut belum bisa disebut sebagai
sebuah informasi. Secara etimologis istilah “informasi” berasal dari bahasa
Latin, yaitu “Informatinem” yang artinya ide, kode, atau
garis besar. Informasi dapat disajikan dalam beragam bentuk, mulai dari
tulisan, gambar, tabel, diagram, audio, video, dan lain sebagainya. Setidaknya
ada tujuh fungsi informasi bagi manusia. Adapun beberapa fungsi informasi
adalah sebagai berikut:
1. Menjadi Sumber Pengetahuan Baru
Informasi valid yang didapatkan oleh seseorang dapat
menjadi pengetahuan baru dan menambah wawasan di bidang tertentu. Misalnya
informasi mengenai cara mengatasi masalah kesehatan yang didapatkan dari konten
di internet. Mungkin informasi tersebut adalah sesuatu yang umum dan sudah
banyak diketahui orang. Namun, mungkin saja ada seseorang yang belum mengetahui
informasi tersebut.
2. Menghapus Ketidakpastian
Kurangnya informasi tentang sesuatu akan menimbulkan
ketidakpastian. Untuk menghapus ketidak pastian tersebut maka diperlukan
informasi lengkap dan valid dari sumber terpercaya.
3. Sebagai Media Hiburan
Informasi juga dapat berfungsi sebagai media hiburan bagi
masyarakat. Misalnya informasi mengenai objek wisata di suatu tempat yang
disajikan dengan bahasa dan gambar-gambar yang menarik.
4. Sebagai Sumber Berita
Suatu informasi mengenai hal tertentu bisa dipakai
sebagai sumber berita yang disampaikan kepada khalayak. Misalnya, informasi
tentang Asian Games yang didapatkan dari media Televisi, Radio, dan situs
berita online.
5. Untuk Sosialisasi Kebijakan
Informasi adalah komponen penting dalam berkomunikasi
dengan pihak lain. Salah satunya adalah untuk menyampaikan suatu kebijakan dari
pemerintah kepada masyarakat yang dilakukan dengan cara sosialisasi.
6. Untuk Mempengaruhi Khalayak
Penyampaian informasi melalui media massa biasanya
dilakukan untuk mempengaruhi khalayak. Misalnya informasi mengenai suatu produk
melalui Televisi yang tujuannya agar masyarakat mengenal dan tertarik untuk
menggunakannya.
7. Menyatukan Pendapat
Di era media sosial seperti sekarang ini, sangat mudah
untuk menyampaikan pendapat ke ruang publik. Namun, tidak semua pendapat
tersebut sesuai dengan fakta yang ada.
Sesuai
dengan pengertian informasi yang dijelaskan di atas, informasi dapat dibedakan
menjadi empat jenis. Adapun beberapa jenis informasi adalah sebagai berikut:
1.
Informasi Berdasarkan Sifat
Jenis
informasi ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, diantaranya;
Faktual,
yaitu informasi yang dibuat berdasarkan fakta dan dapat dibuktikan
kebenarannya.
Opini
atau konsep, yaitu informasi yang dibuat berdasarkan pendapat seseorang tentang
sesuatu hal.
Deskripsi,
yaitu informasi yang dibuat dalam bentuk penjelasan terperinci mengenai sesuatu
hal.
2.
Informasi Berdasarkan Kegunaan
Jenis
informasi berdasarkan kegunaan dapat dibagi menjadi dua bagian, diantaranya;
Informasi
yang menambah pengetahuan, yaitu informasi yang isinya menambah pengetahuan
baru bagi seseorang.
Informasi
yang berdasarkan penyajian, yaitu informasi yang disampaikan dalam beberapa
bentuk, misalnya artikel, audio, gambar, video, dan lainnya.
3.
Informasi Berdasarkan Bidang Kehidupan
Ini
adalah jenis informasi yang dibuat dalam beberapa kategori, seperti Informasi
Kesehatan, Informasi Pendidikan, Informasi Bisnis, Informasi Olahraga, dan
sebagainya.
4.
Informasi Berdasarkan Lokasi Peristiwa
Ini
adalah jenis informasi yang dibuat berdasarkan lokasi suatu peristiwa. Jenis informasi
ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu informasi dalam negeri (domestik), dan
informasi luar negeri.
B.
Pengertian
Jurnalistik
Secara etimologis, jurnalistik berasal dari kata journ.
Dalam bahasa Perancis, journ berarti catatan atau laporan
harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan yang
berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.
Dengan
demikian, jurnalistik bukanlah pers, bukan pula media massa. Jurnalistik adalah
kegiatan yang memungkinkan pers atau media massa bekerja dan diakui
eksistensinya dengan baik.
Secara
konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang, yakni sebagai
proses, teknik, dan ilmu. Sebagai proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari
mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media
massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan atau jurnalis.
Sebagai teknik,
jurnalistik adalah keahlian atau keterampilan membuat karya jurnalistik
termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan pemberitaan seperti peliputan peristiwa
atau reportase dan wawancara.
Sebagai ilmu,
jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan
informasi melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan yang dinamis
dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi serta dinamika masyarakat itu sendiri.
Selain itu,
jurnalistik termasuk bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji
proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain
dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.
Menurut
ensiklopedia Indonesia, jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan
penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara
berkala, dengan menggunakan sarana-saranapenerbitan yang ada (Suhandang,
2004:22).
Salah seorang
pakar ilmu komunikasi, Onong Uchjana Effendy mengemukakan, secara sederhana
jurnalistik dapat didefinisikan sebagai teknik mengelola berita mulai dari
mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada masyarakat. AS Haris
Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia mengemukakan bahwa jurnalistik
adalah kegiatan mencari, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan
menyebarkan berita melalui media massa berkala kepada khalayak seluas-seluasnya
dengan secepat-cepatnya.
Tak lepas dari
beberapa pengertian yang telah dijelaskan sebelumnya, sedikitnya jurnalistik
memiliki empat manfaat sekaligus fungsi jurnalistik bagi kehidupan sehari-hari,
diantaranya; Pertama, jurnalistik berfungsi menghimpun dan menyebarkan
informasi bagi khalayak. Kedua, jurnalistik berfungsi memberikan pendidikan
bagi khalayak.
Ketiga,
jurnalistik berfungsi sebagai media hiburan bagi khalayak. Keempat, jurnalistik
berfungsi sebagai alat kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Dalam istilah yang lebih politis, keberadaan jurnalistik dianggap
sebagai sebagai ‘kekuatan keempat’ dalam sistem politik kenegaraan setelah
legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Dilihat dari
segi bentuk dan pengelolaannya, jurnalistik dapat dibagi menjadi tiga bagian
besar; yakni jurnalistik media cetak meliputi surat kabar, tabloid, dan
majalah; jurnalistik media elektronik auditif yakni radio siaran; dan
jurnalistik media elektronik audio-visual yakni televisi. Setelah dunia
internet berkembang pesat, jurnalistik lewat dunia maya pun turut berkembang.
Kita menyebutnya jurnalisme media online. Dengan hadirnya media online menambah
jumlah ragam bentuk jurnalistik.
C.
Pengertian
Sosial Media
Secara umum, definisi
media sosial adalah media online. Seperti dalam Wikipedia, media sosial
merupakan sebuah media online dimana para penggunanya bisa saling berkomunikasi
dan berinteraksi. Jadi pengertian media sosial disini adalah sebuah saluran
atau sarana untuk pergaulan social yang dilakukan secara online melalui
jaringan internet.
Para pengguna media social atau bisa
juga disebut dengan user ini bisa melakukan komunikasi atau interaksi, berkirim
pesan, baik pesan teks, gambar, audio hingga video, saling berbagi atau
sharing, dan juga membangun jaringan atau networking. Contoh media social
sendiri yang hingga saat ini paling umum digunakan adalah blog, wiki dan juga
jejaring social
Ciri-Ciri Media Sosial
Di samping pengertian media social yang
telah dijelaskan, media social sendiri memiliki beberapa karakteristik atau
ciri khususnya yang diantaranya adalah pesan tidak hanya bisa disampaikan untuk
seorang saja, akan tetapi juga bisa dikirimkan ke banyak orang.
Kemudian pesan ini juga bisa disampaikan
secara bebas, tidak harus melalui Gatekeeper. Selain itu, penyampaian pesan di
media social juga cenderung jauh lebih cepat daripada media lainnya. Ciri
terakhir bahwa yang menentukan waktu untuk berinteraksi adalah si penerima
pesan.
Peran Dan Fungsi Media Sosial
Media social memiliki beberapa peran dan
fungsi bagi masyarakat secara umum seperti sebagai alat atau media promosi.
Penyampaian pesan secara cepat dan luas tentu bisa membantu seseorang untuk
mempromosikan bisnisnya.
Kemudian media social juga berperan
dalam membangun hubungan ataupun relasi, bahkan dari jarak jauh karena media
social memiliki jangkauan global. Selain itu, media social juga dapat berperan
dalam membantu system administrasi, memberi dan mendapatkan informasi, melihat
peluang dan pasar, perencanaan dan lain sebagainya.
Jenis-Jenis Media Sosial
Saat ini sudah ada banyak sekali jenis
media social yang mungkin sudah anda gunakan beberapa diantaranya seperti
Facebook, Twitter, Instagram, Blog, Youtube, Google Plus, dan lain sebagainya.
D.
Pengertian
Konten
Secara sederhana, konten bisa dikatakan berkualitas jika konten yang
kita buat mampu memberikan feedback yang diharapkan.
Tentunya feedback yang dimaksud adalah feedback positif
dan memiliki efek viral. Jadi, tidak semua konten yang memiliki respon yang
banyak bisa dikatakan berkualitas. Karena, bisa saja sebuah konten yang
bermuatan negatif banyak mendapat respon baik itu cacian, hinaan dan respon
lainnya.
Oleh karena itu, untuk menciptakan feedback yang
diharapkan, maka isi konten haruslah berbobot dan memiliki informasi yang
penting. Sebagai tolak ukurnya, Anda bisa mengamati konten yang Anda buat
setiap harinya. Seperti mengamati jumlah like terhadap konten Anda, berapa
banyak orang yang berkomentar terhadap konten Anda dan berapa banyak orang yang
membagikan konten Anda.
Semakin banyak respon yang didapat, maka, konten Anda berhasil
memberikan perhatian banyak orang dan ketika respon pembaca sangat positif
maka, konten yang Anda buat bisa dikatakan sebagai konten yang berkualitas di
mata pembaca.
Cara Membuat Konten Yang Berkualitas
Anda bisa memulai dengan hal yang sederhana dan bermanfaat. Jika kita
bandingkan dengan kasus jasa otomotif di atas. Anda bisa memberikan konten yang
terkini mengenai informasi seputar otomotif. Selain itu, jenis konten bisa
mempengaruhi terhadap kualitas konten. Anda bisa membuat konten dalam bentuk
grafis atau video. Dengan maksud, agar orang-orang minimal tertarik untuk
melihat dan membaca konten Anda.
E.
Bagaimana
Seorang jurnais Mem Blowup Sebuah berita
Perkembangan teknologi internet membuat
perubahan yang besar dalam produksi maupun konsumsi media yang hampir
keseluruhan media informasi memanfaatkan teknologi berbasis internet karena
mudah untuk diakses kapan saja dan di mana saja. Selama terhubung jaringan
internet, sirkulasi berita menjadi cepat, tanpa menunggu media dicetak, berita
sudah bisa untuk di konsumsi. Dengan cepatnya sirkulasi arus berita,
pihak-pihak media berita pun berlomba-lomba untuk menyuguh hangat beritanya.
Berita yang menarik menurut kebanyakan
pembaca adalah berita seputar gosip dan selebrita. Topik berita tersebutlah
yang akan menjadi topik fenomena jurnalistik yang kehilangan independensi media
jurnalnya. Mengapa begitu?
Dikatakan kehilangan indenpendennya
karena media jurnalistik dewasa ini kebanyakan membuat berita seputar status
media sosial selebriti atau orang-orang yang 'memiliki nama', di mana jurnalis
hanya mengutip status media sosial dan membuatnya menjadi sebuah berita yang
akan menarik perhatian banyak orang tanpa melakukan proses verifikasi dari
obyek -- orang tersebut -- atas kebenaran tulisan yang disebarkannya. Dan
berita yang tanpa kebenaran itu akan membuat dampak buruk yang tidak kecil bagi
masyarakat maupun pihak media yang mengalami kerugian atas berkurangnya
kepercayaan masyarakat pada media tersebut.
Mari kita kembali ke tahun 2014, di mana
terjadi kasus seorang selebriti menggugat 17 portal media infomasi atas berita
yang diunggah oleh media-media tersebut. Selebriti tersebut adalah musisi Ahmad
Dhani. Kasus yang saat itu sedang hangat dibicarakan adalah tentang kicauan
'seorang' Ahmad Dhani yang berisi tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
2014.
Berawal dari sebuah akun media sosial
Instagram yang menagih janji Ahmad Dhani berupa posting-an pada akunnya untuk
memotong kemaluannya karena Joko Widodo telah terpilih menjadi Presiden
Republik Indonesia yang ketujuh. Posting-an tersebut berisikan
screenshotkicauan Twitter Ahmad Dhani yang berisi "Saya akan potong
kemaluan saya kalau Jokowi bisa menang dari Prabowo Subianto!! Itu sumpah
saya!!"dengan akun @AHMADDHANIPRAST yang username-nya sangat mirip dengan
username Twitter Ahmad Dhani yang asli.
Melihat screenshot tersebut, Ahmad Dhani
menyatakan bahwa kicauan tersebut adalah palsu. Melalui wawancara pada program
Dear Haters channel Youtube sebuah stasiun televisi swasta, Ahmad Dhani
mengklarifikasi bahwa kicauan tersebut tidak benar.
Posting-an itu pun menjadi viral, bukan
hanya di sosial media tetapi juga dikalangan wartawan serta jurnalis terutama
pada media daring. Wartawan yang mempercayai screenshot Instagram itu pun
langsung menjadikannya sebagai bahan berita lalu menyebarkan beritanya melalui
portal berita internet. Banyaknya media daring yang mempercayai kicauan
tersebut, Ahmad Dhani langsung melaporkan 17 media daring kepada Dewan Pers.
Yang mengejutkan adalah media daring tersebut merupakan sederet dari media
profesional. Ketujuh belas portal media online tersebut adalah forum.detik.com,
kompasiana.com, Hai Online, merdeka.com, republika.co.id, liputan6.com,
metroonline.com, nonstop-online, palingseru.com, seruu.com, solopos.com,
wartaharian.co, ciricara.com, okezone.com, kasakusuk.com, kaskus.co.id dan
kapanlagi.com.
Melihat media profesional di atas
menjadikan hilangnya indenpendensinya terhadap
sebuah berita. Karena tanpa proses verifikasi kepada orang yang terkait,
jurnalis langsung menciptakan berita dan menyebarkannya demi menarik perhatian
banyak orang. Padahal, dalam jurnalisme, sebagai jurnalis, pantang menerima
sesuatu dengan apa adanya dan menganggap semua itu benar (take for granted). Seharusanya
seorang jurnalis mendukung semua kesimpulan serta fakta-fakta lalu
dokumentasikan semuanya dengan sumber-sumber yang dapat di percaya dan jangan
lupa untuk menyebut sumbernya.
Kasus di atas dapat menjadi pelajaran
yang wajib jurnalis perhatikan. Jika dilihat kembali, berita jurnalistik yang
bermodalkan status sosial media seorang selebriti atau orang bernama dapat di
kategorikan sebagai konsep dari citizen journalist atau biasa dikenal sebagai
jurnalis warga. Jurnalis warga adalah jurnalistik yang di mana masyarakat
menjadi obyek sekaligus subyek dari sebuah berita. Adanya konsep citizen
journalist atau jurnalistik warga menurut Kusumaningati ini muncul karena
krisis kepercayaan publik Amerika kepada media-media dan juga atas
kekecewaannya warga terhadap kondisi politik tahun 1988. Konsep inilah yang
dapat membuat semua orang bisa menjadi jurnalis.
Konsep jurnalis warga ini juga dapat
disebut sebagai collaborative reporting yang artinya kerjasama penyedia media
dengan penyedia sumber berita di mana jurnalis menjadi manajernya, mengumpulkan
berita dari warga media sosial, memproduksi berita hingga menyebarluaskan
berita.
Tetapi fenomena jurnalis mengutip status
media sosial untuk dijadikan bahan beritanya ini menjadi pekerjaan yang tidak
jelas di mata jurnalis. Apakah mereka bisa disebut sebagai jurnalis? Lalu
dimanakah peran jurnalis dalam beritanya jika sumber untuk berita bisa
didapatkan hanya dari status tokoh media sosial? Apakah itu bisa disebut
sebagai sumber informasi? Atau apakah sosial media merupakan platform baru
untuk jurnalis?
BAB 3
Penutup
A. Kesimpulan
Semenjak kita memasuki dunia teknologi,
semua hal baik itu makanan, aktivitas, pakaian, hingga informasi, harus
mengikuti perkembangan zaman. Seperti halnya dengan jurnalis. Jika jurnalis terus
saja mengolah berita yang kaku dan formal, baik itu cetak maupun digital,
kemungkinan besar akan sedikit orang yang berminat untuk memilih berita dari
jurnalis tersebut.
Kecenderungan jurnalis menggunakan media
sosial sebagai bahan berita meningkat seiring menyesuaikan zaman. Salah satu
media sosial yang menjadi sumber jurnalis untuk membuat berita adalah Twitter.
Salah satu survey yang digerakkan oleh Digital Journalism Study menemukan bahwa
47 persen dari 478 jurnalis responden di 15 negara menggunakan Twitter sebagai
sumber beritanya. Dengan hasil survey tersebut membuktikan bahwa fenomena ini
bisa menjadi platform baru bagi jurnalis dalam membuat berita, dengan
pemberitaan yang ringan dan seputar tokoh-tokoh yang diminati orang-orang.
Bahkan Social Network bisa menjadi editor baru yang menjadikan percakapan di
media sosial sebagai sumber informasi pertama bagi editor hingga menggunakannya
sebagai agenda pemberitaan. Media sosial juga memungkinkan jurnalis untuk
membangun personal brand mereka. Media sosial juga sangat bermanfaat bagi
jurnalis. Menurut survey, 76 persen menggunakannya sebagai sarana memantau
informasi, 46 persen sebagai sumber ide berita, 36 persen sebagai sarana
monitoring/evaluasi, 31 persen sebagai sumber mencari sumber, 24 persen sebagai
bahan berita dan 16 persen sebagai sarana verifikasi.
Di Indonesia sendiri, media profesional
digital seperti liputan 6 atau tempo.co memiliki bidang sendiri untuk
berita-berita seputar tokoh dari media sosial seperti Twitter. Dari sini bisa
di simpulkan bahwa jurnalis yang membuat berita dari media sosial dapat disebut
sebagai jurnalis.
Tetapi walaupun banyak survey yang
mendukung media sosial sebagai bahan berita, hendaknya konten berita juga
berbobot. Karena walaupun era teknologi dan berita jurnalistik bebas beredar,
masyarakat juga semakin pemilih akan berita yang ingin dikonsumsinya.
B.
Daftar
Pustaka
Adam, Aulia. (2017). Selamat Tinggal
Generasi Milenial Selamat Datang Generasi Z.
https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX
Zuhra, Wan Ulfa Nur. (2017). Kelahiran
Generasi Z Kematian Media Cetak.
https://tirto.id/kelahiran-generasi-z-kematian-media-cetak-ctLa
Ramdan, Anton. Jurnalistik Islam.
https://books.google.co.id/books?id=j6XOCQAAQBAJ&hl=id&source=gbs_navlinks_s
Sumardi, Edi. (2016). Ditagih, Kenapa
Dhani Belum Potong 'Itunya' Padahal Jokowi Jadi Presiden, Langsung Dibalas
Begini.
http://makassar.tribunnews.com/2016/04/02/ditagih-kenapa-dhani-belum-potong-itunya-padahal-jokowi-jadi-presiden-langsung-dibalas-begini
Ishwara, Luwi. (2005). Catatan-Catatan
Jurnalisme Dasar. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Yuda, Fransiscus. (2013). Kelayakan
Berita Citizen Journalism.Studi Analisis Isi Kuantitatif Mengenai Kelayakan
Berita dalam Kolom Citizen Journalism Surat Kabar Harian Tribun Jogja Periode
November 2012-Februari 2013. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Unilubis. (2012). Interaksi Jurnalis dan
Media
Sosial.https://unilubis.com/2012/02/21/interaksi-jurnalis-dan-media-sosial/
http://blog.nolimit.id/2017/11/08/mengapa-kita-harus-menganalisa-konten-di-media-sosial/
https://www.jurnalrozak.web.id/2014/10/pengertian-jurnalistik-secara-umum.html
Komentar
Posting Komentar