Tugas Jurnalistik Online: Hoax dan Netizen (Kelompok 2)
MAKALAH
HOAKS DAN NETIZEN
(SEBAGAI PENGGUNA MEDIA ONLINE)
Disusun oleh:
1.
Eli Puspitasari 5.16.03.05.0.015
2.
Ericko Felix Yuwono Chandra 5.16.03.05.0.016
3.
Imaniyatul Khikmiyah 5.16.03.05.0.019
PRODI ILMU
KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU
SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
ISLAM MAJAPAHIT
2018
DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI
BAB
1 PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang........................................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah.......................................................................................................... 2
C.
Tujuan ........................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Hoax atau Berita Bohong........................................................................................................... 3
B.
Sejarah
Kemunculan Hoax............................................................................................................... 4
C.
Hoax
dan Netizen........................................................................................................... 4
D.
Cara Mendeteksi
Berita Palsu atau Hoax............................................................................................................... 6
E.
Bahasa tidak
baku................................................................................................................ 8
F.
Bahasa yang
mengandung sarkasme........................................................................................................ 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................................................... 9
DAFTAR
PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkembangan teknologi komunikasi di era globalisasi membawa pengaruh yang
sangat besar dalam kehidupan manusia. Kemampuan yang tinggi, kecepatan dalam
mendapatkan informasi, kemudahan berkomunikasi, gaya hidup yang serba instan
dan multitasking menjadi sebuah ciri
kebutuhan masyarakat saat ini. Keberadaan media cetak dan elektronik semakin
tergeser dengan adanya internet.
Internet inilah yang melahirkan media – media baru seperti media online dan
media sosial mulai dari blog, facebook, twitter, instagram, line, whatsapp, dan
lain – lain. Masyarakat akhirnya beralih kebiasaan dari pembaca koran, televisi
dan radio kini sudah membentuk komunitas online untuk saling berbagi informasi
melalui dunia maya. Saat ini masyarakat beralih menjadi netizen (warga internet). Akses internet bisa dilakukan oleh siapa
saja, kapan saja, dan dimana saja.
Pemanfaatan media sosial di Indonesia saat ini berkembang pesat, melalui
media sosial juga ratusan atau bahkan ribuan informasi disebar setiap harinya.
Media sosial juga memberikan kemerdekaan seluas – luasnya bagi para pengguna
untuk mengekspresikan dirinya, sikapnya, pandangan hidupnya, pendapat, dan menyampaikan
unek – uneknya. Termasuk juga kebebasan dalam pengguna media sosial apakah
digunakan secara positif atau negatif, karena banyak orang yang menggunakan
media sosial untuk menyebarkan kebencian dan provokasi.
Keadaan itu juga disisi lain bisa menjadi potensi yang menguntungkan,
tetapi disisi lain juga menjadi sebuah ancaman yang memberikan dampak negatif
yang mengarah pada perpecahan. Hal semacam ini banyak di manfaatkan oleh orang
– orang yang tidak bertanggung jawab untuk membagikan berita hoax atau berita
bohong untuk memprovokasi pihak lawannya, sedangkan masyarakat internet (netizen) cenderung meneruskan kembali
atau mengomentari segala info yang mereka minati tanpa berpikir panjang,
sehingga isu palsu tersebut viral dan si pembuat berita hoax meraup keuntungan. Banyak akhir – akhir ini penyebaran berita
ujaran kebencian, bentuk – bentuk intoleransi dan informasi palsu (hoax) yang marak di media sosial
Indonesia.
Masyarakat sebagai konsumen informasi dilihat masih belum bisa membedakan
informasi yang benar dan mana informasi yang palsu atau hoax. Faktor yang mempengaruhi yaitu ketidaktahuan masyarakat dalam
menggunakan media sosial secara bijaksana, karena kebebasan para pengguna
internet dan media sosial khususnya netizen merasa punya hak penuh terhadap akunnya.
Mereka merasa bebas dan sah – sah saja membuat tulisan, gambar, atau video
apapun ke dalam akunnya, kadang mereka juga tidak sadar apa yang mereka unggah
tersebut bisa melanggar etika berkomunikasi dalam media sosial.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian hoax atau berita bohong ?
2.
Bagaimana sejarah
hoax ?
3.
Apa saja ciri –
ciri berita palsu atau hoax
4.
Apa hubungan hoax dan netizen ?
5.
Bagaimana cara
mendeteksi berita hoax ?
C.
Tujuan
Untuk mengetahui pengertian hoax, sejarah hoax, apa
saja ciri – ciri berita hoax, apa
saja hubungan hoax dan netizen, dan
bagaimana cara mendeteksi berita hoax.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Hoax
atau Berita Bohong
Dalam Bahasa Inggris, hoax artinya tipuan, menipu, berita
bohong, berita palsu atau kabar burung atau ketidakbenaran suatu informasi.
Saat ini, penyebaran berita hoax
sudah didominasi dengan menggunakan instrument media elektronik dan media
cetak.
Arti hoaks menurut
Wikipedia adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat
seolah-olah benar adanya. Hoaks tidak sama dengan rumor, ilmu semu, maupun
April Mop. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks adalah
berita bohong. Dalam Oxford English dictionary, hoax diartikan sebagai malicious
deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. (sumber:
Rappler.com | Published: 15 September 2017).
Menurut McDougall dan
Curtis D hoaks adalah deliberately
fabricated falsehood made to masquerade as truth (sebuah kebohongan yang
secara sengaja dibuat “menyamar” seolah-olah berita itu adalah sebuah
kebenaran).
Istilah hoax pertama
kali muncul di kalangan netter Amerika Serikat. Saat itu, kata hoax didasarkan
pada sebuah judul film The Hoax yang merupakan film drama Amerika yang tayang
pada tahun 2006 dan disutradarai oleh Lasse Hallstrom. Film The Hoax dibuat
berdasarkan buku dengan judul yang sama karangan Clifford Irving dan berfokus
pada biografi Irving sendiri serta Howard Hughes yang dianggap membantu
penulisan.
Banyak kejadian yang
diuraikan Irving dalam bukunya yang diubah atau dihilangkan dalam film. Sejak
saat itu, film The Hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung
kebohongan. Sehingga setiap kali muncul berita palsu atau berita bohong, netter
Amerika akan menggunakan istilah hoax ini.
Namun, menurut
fisiologis Inggris, Robert Nares (1753-1829), kata hoax sudah muncul sejak abad
ke-18 sebagai singkatan atau istilah lain dari “hocus” yang artinya adalah permainan sulap. (sumber: any.web.id)
B.
Sejarah Kemunculan Hoax
Indonesia bukanlah
Negara pertama yang memulai munculnya berita-berita palsu atau hoax yang menghebohkan masyarakat. Dalam sejarah hoax
dunia, hoax pertama kali muncul
di tahun 1661 pada bagian belahan bumi lain yang melibatkan musisi luar negeri
yang bernama John Mompesson, ia menceritakan pelangalamannya yang dihantui oleh
suara-suara drum di rumahnya. John berpendapat bahwa ia mendapatkan nasib
seperti itu karena ia telah menuntut musisi lain yaitu William Drury dan
berhasil memenangkan perkara sehingga membuat Drury menerima hukuman. John
menuduh Drury memberikan guna-guna atau kutukan pada dirinya karena telah kalah
dalam tuntutan di pengadilan. Hingga pada suatu ketika seorang penulis buku
bernama Glanvill mendengar kisah rumah berhantu John dan mendatangi rumahnya.
Dan penulis tersebut juga mendengar suara-suara aneh di rumah John. Sehingga
Glanvill menuliskan pengalaman mistisnya di rumah Johm ke dalam tiga buku
cerita yang diakuinya sebagai kisah nyata, dan membuat masyarakat tertarik
untuk membaca buku-buku Glanvill. Namun pada buku ketiganya, ia mengakui bahwa
suara-suara yang ia dengar di rumah John Mompesson hanyalah sebuah trik belaka
untuk menghebohkan masyarakat sekitar.
Kisah lain datang di
Amerika Serikat, pada tahun 1745 seorang penduduk AS yang bernama Benjamin
Franklin menemukan sebuah batu yang dipercaya bisa menyembuhkan beberapa
penyakit berat seperti rabies, kanker, dan penyakit lainnya. Ia menamai batu
tersebut dengan nama Batu China. Penemuan batu ini sempat membuat dunia
kedokteran AS memercayainya tanpa melakukan penelitian. Hingga pada suatu
ketika, penelitian terhadap batu itu dilakukan dan hasilnya cukup
mencengangkan. Ternyata batu itu hanyalah sebuah tanduk rusah yang sudah diubah
dan sama sekali tidak mengandung unsur penyembuhan apapun. Berita ini akhirnya
dimuat di harian Pennsylvania Gazette.
Hingga sekarang, berita
hoax terus-menerus bermunculan dan
menjadi semakin mudah tersebar seiring dengan perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi.
C.
Hoax dan Netizen
Di abad ke 21 ini,
teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi bagian kehidupan masyarakat
dunia, terutama pada saat kemunculan internet. Internet telah memberi perubahan
besar dalam kehidupan masyarakat, dengan adanya internet masyarakat menjadi semakin
mudah dalam mendapatkan informasi dan melakukan komunikasi dengan cepat dan
murah.
Netizen
adalah istilah yang tujukan untuk para pengguna internet, yaitu mereka yang
aktif terlibat dalam komunitas maya atau pengguna internet lainnya. Kemunculan netizen merupakan salah satu dampak dari
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat. Di sisi lain,
internet juga mampu membawa dampak negatif pada masyarakat. Salah satunya
adalah beberapa informasi di internet dibuat dengan tujuan untuk memprovokasi
sehingga memunculkan konflik di masyarakat. Isi berita yang provokatif biasanya
dibuat berdasarkan opini individu semata dan tidak bisa dipertanggung jawabkan
kebenarannya, sehingga berita seperti ini kerap kali memuat berita bohong atau hoax.
Media sosial merupakan
tempat yang paling banyak memuat adanya informasi hoax. Dengan kemudahan yang diberikan pada fitur media sosial, netizen dapat dengan mudah menyebarkan hoax. Selain itu, pengguna yang tidak
mengetahui kebenaran berita tersebut pun juga dapat menyebarkan ulang kepada
orang lain. Hanya dengan menggunakan smartphone
yang mereka miliki, berita hoax dapat
dengan mudah tersebar hanya dengan sekali klik, oleh karena itu pada zaman
sekarang muncul peribahasa baru yaitu “jempolmu adalah harimaumu”. Peribahasa
tersebut menggambarkan bahwa jempol seseorang dapat membuatnya terjerat hukum
hanya karena mereka menyebar luaskan berita palsu atau hoax.
Maraknya penyebaran
berita hoax di media sosial
menunjukkan bahwa netizen di
Indonesia masih belum mampu menyaring berita di media sosial dengan benar,
salah satu faktor yang menyebabkan adalah literasi yang rendah. Beberapa berita
hoax dapat membuat kegaduhan di
masyarakat. Salah satunya adalah berita tentang isu penculikan anak yang
dilakukan oleh orang gila. Dalam informasi tersebut dituliskan bahwa awalnya
orang gila tersebut mengajak anak-anak bermain, namun secara tiba-tiba
anak-anak yang ada di dekatnya digendong dan dibawa kabur.
Akibat dari beredarnya
informasi hoax tersebut, orang gila
pun menjadi target kemarahan warga. Salah satunya terjadi di Pontianak. Seorang
pria paruh baya harus rela kehilangan nyawa lantara diduga akan menculik
seorang anak.
Kapolri Jenderal Tito
Karnavian mengimbau mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah termakan isu
dan resah terhadap maraknya kabar penculikan anak dan penjualan organ tubuh di
media sosial. Meskipun begitu, masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan
tetapi tidak perlu over reaktif dan panik.
D.
Cara Mendeteksi Berita Palsu atau Hoax
a.
Judul provokatif
Judul merupakan
intisari dari sebuah berita yang memuat isi berita secara singkat. Untuk dapat
menarik minat pembaca, judul harus dibuat semenarik mungkin. Judul yang baik
tidak mengarah pada provokasi. Sedangkan yang terjadi pada berita hoax, judul dibuat seprovokatif mungkin
sehingga lebih mudah untuk menarik minat pembaca.
Judul-judul yang
bersifat provokatif biasanya terkait isu yang sedang marak diperbincangkan dan
kontraks dengan judul-judul yang dimuat pada berita dari sumber yang handal
seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, dan sebagainya. Judul-judul pada berita
bohong dirangkai sedemikian rupa sehingga seolah-olah tampak sebagai sebuah
kebenaran atau fakta yang baru terungkap. Tidak berimbang, dan mengandung unsur
hasutan menjadi ciri-ciri judul yang provokatif.
Berikut adalah beberapa
contoh dari judul yang provokatif:
a)
WAW HEBOH!!!
BERITA PAGI INI: PERNYATAAN TERBARU PANGLIMA TNI: KAMI AKAN HABISI SEMUA PKI DI
INDONESIA WALAU PRESIDEN JOKOWI MELARANG ,... GATOT: TETAP SAYA LAKUKAN WALAU
RESIKO DIPECAT !!!
b)
Aneh, suara
Anies-Sandi Tiba-Tiba Berkurang 7000 Padahal Data Sudah 100%
c)
Anies: Ada
Percobaan Pembunuhan Oleh Ahok Terhadap Saya Dalam Kasus Jatuhnya Lift
Pada judul yang
pertama, judul tersebut diambil dari kutipan (yang seolah-olah berasal) dari
pernyataan Panglima TNI. Pemberitaan semacam ini dimanfaatkan untuk memancing
kemarahan para pendukung orang yang diberitakan dan lebih berorientasi kepada
adu domba dan penghasutan. Dalam konteks ini, Panglima TNI diberitakan berani
melangggar instruksi Presiden.
Sedangkan pada judul
yang kedua dan ketiga beredar ketika berlangsungnya Pilkada Serentak. Pembuat
berita menggunakan kata “aneh” untuk memancing ketertarikan pembaca terkait isu
perhitungan hasil suara Pilkada. Kata “aneh” dapat digunakan untuk menyulit
keraguan seseorang terhadap sebuah kondisi yang di luar kewajaran. Berita ini
juga digunakan untuk memengaruhi lawan politik beserta passa pendukungnya. Pada
judul yang ketiga bersifat provokatif dengan jalan melakukan fitnah atas
perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan.
b.
Tanda baca yang berlebihan
Seorang jurnalis
professional tentu telah dibekali dengan ilmu-ilmu jurnalistik, bahasa, dan
komunikasi yang matang serta memegang teguh prinsip-prinsip atau kode etik
jurnalistik. Sebuah berita yang terpercaya tentu telah melalui proses
penyuntingan terlebih dahulu sebelum dinyatakan layak terbit sehingga keabsahan
informasi tetap terjaga, termasuk dalam kesalahan tanda baca.
Data-data yang
menunjukkan adanya berita hoax adalah
tanda baca yang digunakan secara berlebihan, baik berupa tanda titik (.) maupun
tanda seru (!), seperti pada contoh berikut:
a)
BERITA
TERBARU…!!! PUKUL 08.30 KPK JEMPUT PAKSA ANIES BASWEDAN DI RUMAHNYA , KARENA
TERSANDUNG KASUS KORUPSI DANA FRANKFURT BOOKFAIR
b)
BERITA TERHEBOH
MALAM INI…!! Setya Novanto; Jika Ahok Gagal Jadi Gubernur Ahok Akan Kami Angkat
menjadi Ketua KPK..SHARE
c)
Berita pagi hari
ini yang menghebohkan dunia..!!! paus yohanes II, atau yang Akrab Dipanggil Sri
Paus,Pimpinan Umat Katholik Sedunia Masuk ISLAM,Sekitar jam 10 Tadi Pagi
Dimasjidil Harham..TOLONG DI SHARE !!!!
c.
Kata yang berunsur imperative (kata-kata suruhan
atau larangan)
Berita bohong dapat
diindikasikan dari munculmnya kata-kata yang berunsur imperatif, baik berupa
suruhan atau larangan. Kata-kata kerja imperatif yang sering muncul adalah “share”, “bagikan”, “like”, “sebarkan”, “komen”; dan kata yang digunakan untuk
menyatakan ketakjuban seperti “aneh”, “heboh”, “waw”, “astaga”, lazim digunakan
pada berita hoax.
a)
Bapak miskin ini
diceburin ke got td pagi hanya karena mencuri satu buah apel utk anaknya yg
sakit kelaparan.. Yg melihat komen aamiin semoga
rezeki bapak ini melimpah ruah aamiiin...
b)
Kemarin di
Thailand ditemukan 1 buah Mobil van berisi hambir 100 tubuh anak2 dlm keadaan
meninggal dan dibungkus plastic. Semua tubuh dalam keadaan TANPA ORGAN TUBUH!
Mulai saat ini berhati-hatilah dgn anak anda kemanapun dia pegi DAMPINGILAH!
Baik sekolah dan bermain, sindikat ini sdh menyebar ke pelosok pelosok di
Negara manapun. Tolong sebarkan ini.
c)
Peringatan
urgent! Hati-hati untuk tidak
mengggunakan parasetamol yang datang ditulis P / 500. Ini adalah parasetamol
baru, sangat putih dan mengkilap, mengandung “Machupo” virus, dianggap salah
satu virus yang paling berbahaya di dunia. Dan dengan tingkat kematian yang tinggi.
Silahkan berbagi pesan ini, untuk semua orang
dan keluarga.
E.
Bahasa tidak baku
Karena hoax pada dasarnya bukan diproduksi oleh
orang yang berkompetensi di bidang jurnalistik, bahasa yang digunakan pun jauh
dari kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku. Bahasa yang digunakan pada umumnya
menggunakan kata-kata tidak baku, pencampuran huruf capital dan huruf kecil
pada beberapa kaliat, penyingkatan beberapa kata, serta susunan kalimat yang
tidak gramatikal.
F.
Bahasa yang mengandung sarkasme
Penggunaan kata-kata
pedas untuk menyakiti orang lain, cemooh atau ejekan kasar juga menjadi variasi
ungkapan yang sering dimuat pada berita hoax.
Bahasa-bahasa sarkasme atau yang lebih terkenal dengan “hate speech” biasanya diusung oleh partisipan-partisipan yang
fanatik terhadap golongan tertentu.
Contoh: Pegawai di lingkungan istana skr
sdh mulai resah, krn sholat di masjid Baiturahim istana selain jum’atan tdk
boleh ada yg sholat disitu, tdk boleh ada suara adzan lagi kalau masuk waktu
sholat, ini benar2 sdh kelewatan komunis biadab.!
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Hoax adalah
adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar
adanya. Istilah hoax pertama kali muncul di kalangan netter Amerika Serikat.
Saat itu, kata hoax didasarkan pada sebuah judul film The Hoax yang merupakan
film drama Amerika yang tayang pada tahun 2006 dan disutradarai oleh Lasse
Hallstrom.
Pelaku pembuat dan
penyebaran berita hoax biasanya
adalah netizen. Netizen adalah Netizen
adalah istilah yang tujukan untuk para pengguna internet, yaitu mereka yang
aktif terlibat dalam komunitas maya atau pengguna internet lainnya.
Media sosial merupakan
tempat yang paling banyak memuat adanya informasi hoax. Dengan kemudahan yang diberikan pada fitur media sosial, netizen dapat dengan mudah menyebarkan hoax. Selain itu, pengguna yang tidak
mengetahui kebenaran berita tersebut pun juga dapat menyebarkan ulang kepada
orang lain. Hanya dengan menggunakan smartphone
yang mereka miliki, berita hoax dapat
dengan mudah tersebar hanya dengan sekali klik, oleh karena itu pada zaman
sekarang muncul peribahasa baru yaitu “jempolmu adalah harimaumu”. Peribahasa
tersebut menggambarkan bahwa jempol seseorang dapat membuatnya terjerat hukum
hanya karena mereka menyebar luaskan berita palsu atau hoax.
Ciri-ciri berita hoax adalah judul provokatif, tanda baca
berlebihan, kata berunsur imperative, bahasa tidak baku, serta bahasa
mengandung sarkasme.
DAFTAR PUSTAKA
Syifullah, Ilham (2018) Fenomena Hoax Di Media Sosial
Dalam Pandangan Hermeneutika. Skripsi: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya
Aribowo, E. K. (2017) “Menelusuri Jejak Hoaks dari
Kacamata Bahasa: Bagaimana Mendeteksi Berita Palsu Sedini Mungkin,” in
Retnatiti, S., Rosyidah, dan Bukhori, H. A. (ed.) Literasi dalam Pembelajaran
Bahasa. Malang: Universitas Negeri Malang, hal. 78–87.
Juliswara, Vibriza (2017) “Mengembangkan Model Literasi
Media yang Berkebhinnekaan dalam Menganalisis Informasi Berita Palsu (Hoax) di Media Sosial. Jurnal Pemikiran Sosiologi
Volume 4 No 2.

Komentar
Posting Komentar