Tugas Jurnalisme Online : fenomena internet trolling di media sosial (kelompok 4)


Fenomena Internet Trolling di Media Sosial




 












DISUSUN OLEH:



Oleh :
                Merisha Dwi Puspita
                 (5.16.03.05.0.028)
  Muhammad Nur Hudah   (5.16.03.05.0.033)
      Muhammad Baihaqi Islami  (5.16.03.05.0.036)


PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM MAJAPAHIT
MOJOKERTO
2018

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Mojokerto, 28 November 2018

Penyusun







BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Media sosial sebagai media baru saat ini adalah menjadi bagian dari kebaradaan generasi di era teknologi. Begitu cepat pola bentuk komunikasi baru memasuki ruang kehidupan generasi muda dalam pusaran teknologi, sebut saja facebook, twitter, istagram, dan blogger, merupakan fenomena di masyarakat modern kekinian.
Permasalahan etika komunikasi dalam ruang dunia maya seringkali menjadi permasalahan serius karena tak jarang kalimat yang ditulis pada akun menimbulkan kata-kata pedas yang tak pantas dituturkan itu berlanjut ke ranah peradilan. Contohnya Aurel Hermansyah yang melaporkan salah satu netizen yang berkomentar melebihi batas normal. Nitizen ini menjadi provakator di akun pribadinya Aurel.
Media sosial dikenal dikalangan luas masyarakat media di dunia internet, telah memberikan perubahan pada kehidupan manusia dalam bentuk pola interaksi dikehidupan sosial yang menembus batas ruang waktu yang sunyi di dunia maya itu. Pola komunikasi yang tercipta dari kehadiran media sosial tidak hanya memberikan kemudahan dalam mengakses kepentingan informasi, tapi lewat media sosial sebagai media baru membangun karakter baru pada kehidupan pribadi setiap orang. Bentuk pola komunikasi aktif dengan tanpa jeda waktu ini dapat dilihat dari satu informasi yang ada secara serentak seluruh dunia mengunggahnya hanya dalam hitungan sepersekian detik.
Bentuk komunikasi yang berkembang pada media sosial, nitizen ternyata tidak begitu arif menggunakan tutur bahasanya, hingga menimbulkan persoalan etika. Permasalahan etika komunikasi dalam ruang dunia maya seringkali menjadi permasalahan serius karena tak jarang kalimat yang ditulis pada akun menimbulkan kata-kata pedas yang tak pantas dituturkan itu berlanjut ke ranah peradilan.
Provokator atau Trolling diartikan sebagai kegiatan memposting tulisan atau pesan menghasut dan seringkali tidak relevan dengan topik yang dibicarakan di komunitas online seperti forum, chatting, blog, atau juga social network. Tujuan dari trolling ini adalah memprovokasi dan memancing emosi para pengguna internet lainnya.
Trolling telah menjadi populer dengan perkembangan internet, jaringan terutama media sosial, karena di situlah orang menyebarkan informasi tentang diri Anda atau pikiran Anda sendiri. Trolling sering mengandung unsur penganiayaan. Orang menjadi korban troll, ketika tujuan posting dan komentar mereka tidak menemukan kebenaran dan meningkatkan harga diri mereka yang bagaimanapun, dalam kebanyakan kasus adalah motif utama untuk menulis. Tapi jangan menganggap troll makhluk mulia, karena dasar dari kegiatan mereka juga kompleks psikologis, baik politik atau kepentingan ekonomi. Troll menjadi provokatif mempublikasikan posting atau komentar.
Para pendukung trolling mengatakan bahwa perilaku mereka tersebut tidak lain adalah humor dan kenakalan biasa serta kebebasan berbicara, namun sebenarnya trolling tersebut adalah peleceh an dan hate speech. Troll beroperasi karena merasa memiliki kekuasaan, mencari hiburan, kebosanan dan balas dendam, terlebih hal ini dilayani dengan baik oleh adanya anonimitas di internet.

B. Rumusan Masalah.
  1.  Pengertian Trolling    
  2.  Bagaiman Sejarah Internet Trolling.   
  3. Apa Alasan Intenet Trolling Muncul
  4. Apa Tujuan menjadi internet trolling.
  5. Apa Ciri-ciri Troll yang mudah dikenali adalah.
  6. Bagaimana Cara Untuk Mengatasi intetnet trolling
  7. Contoh Kasus Fenomena Internet Trolling


  1. Tujuan Masalah                1. Untuk mengetahui Apa Pengertian Internet Trolling
 2. Untuk Mengatahui Bagaiman Sejarah Internet Trolling
 3. Untuk Mengetahui Alasan Internet Trolling
 4. Untuk Mengatahui Tujuan internet Trolling
 5. Untuk Mengetahui Ciri-ciri        Trolling
 6. Cara Mengatasi Intetnet trolling
 7. Untuk Mengetahui Contoh Kasus Internet Trolling






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Internet Trolling

Internet Troll, disebut juga Troll, adalah istilah untuk ‘pembuat onar’ di Internet. Troll adalah orang-orang yang selalu menebar aura negatif di tempat-tempat orang berinteraksi seperti di media sosial, blog, chat, forum  maupun bagian-bagian komentar (comment). Trolling diartikan sebagai seseorang yang mempostingkan tulisan atau pesan menghasut dan tidak relevan dengan topik yang dibicarakan di komunitas online seperti forum, chatting, dan bahkan blog. Tidak jelas apa motivasinya, troll kerap membanjiri Internet dengan kata-kata negatif yang sifatnya menyerang personal seseorang. Sering juga kegiatan troll berupa ‘ocehan-ocehan’ yang tidak relevan dengan fokus pembicaraan yang ada. Dikatakan motif troll tidak jelas tapi yang dilakukan troll biasanya untuk memicu emosi dari pengguna Internet lain.
Istilah troll diambil dari karakter dongeng barat, mahluk yang berpenampilan buruk dan jahat. Kegiatan trolling di Internet sudah ditemukan sejak tahun 90-an. Pada masa sekarang, definisi troll berkembang dan daftar kegiatan trolling di Internet juga bertambah. Orang yang selalu menebar kebencian dengan menuliskan kata-kata yang kasar, bertolak-belakang dengan topik utama, kata-kata yang tidak logis dan sebagainya disebut troll. Kita mengenal ‘produk’ troll dengan istilah ujaran kebencian, fitnah, bully, provokatif, HOAX, argumen tanpa fakta, play victim dan sebagainya. Di jaman sebelumnya, orang mengantisipasi troll dengan prinsip “don’t feed trolls..”. artinya jangan memberi troll makan. Di sini kita bisa interpretasikan dengan kalimat “Jangan meladeni trolls..”.
Rupanya kegiatan-kegiatan trolling ini berlanjut dan telah menghasilkan banyak kerugian, kerugian bagi masyarakat per individu maupun kerugian bagi bangsa dan negara. Maka dibuatlah berbagai regulasi hukum untuk menindak para trolls. Kepada kita semua, pesan yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa janganlah terlalu mudah percaya dan jangan cepat emosi ketika menggunakan Internet. Bayangkan seperti ini, Internet itu seperti air yang memenuhi sebuah teko besar dan kita adalah gelasnya. Jika kita terlalu banyak menerima air dari teko tersebut, maka kita akan mengalami kelebihan muatan lalu semuanya menjadi tumpah berantakan. Waspadalah selalu terhadap apa yang kita lihat di Internet. Troll akan terus berusaha merasuki pikiran Anda.
Trolling sering dideskripsikan sebagai versi online dari eksperimen pelanggaran, dimana batas-batas sosial dan aturan etiket diabaikan. Mereka yang mengaku sebagai troll sering memposisikan diri sebagai Devil's Advocate, gadflies atau culture jammers, untuk menantang pendapat umum atau asumsi umum dari forum yang mereka ikuti, dengan tujuan untuk mengalihkan atau mengenalkan cara berpikir yang baru.
Troll sering digambarkan sebagai orang yang berada di lingkungan yang salah. Namun hal ini sering diakibatkan karena kesalahan atribusi mendasar, karena seringkali tidak mungkin untuk mengetahui identitas sebenarnya dari individual yang mengikuti debat online. Mengingat umumnya troll yang serius sebenarnya 'mengetahui' batas-batas sosial, maka sulit untuk memposisikan mereka sebagai orang yang berada di lingkungan yang salah, karena sebenarnya mereka sangat fasih terhadap tujuan-tujuannya.

B.     Sejarah Internet Trolling

 Sebelum adanya pengarsipan Usenet oleh DejaNews, catatan tentang trolling tidak begitu jelas, karena sedikitnya bukti yang dapat dipelajari. Baru setelah ini, semua arsip diskusi di Usenet dapat dipelajari oleh para peneliti. Kasus yang paling awal, kemungkinan adalah debat AlexAndJoan (1982-1983) di forum CompuServe. VTrolling
r, wartawan dari majalah Ms. mendokumentasikan kejadian tersebut dalam artikelnya pada tahun 1996. Alex (yang dalam kehidupan nyatanya adalah seorang psikiater yahudi berusia 50-an yang pemalu dari New York) berpura-pura sebagai wanita yang sangat bombastik, anti-agama, menggunakan kursi roda dan bisu yang bernama Joan "dalam rangka untuk berhubungan yang lebih baik kepada pasien wanitanya". Hal ini berlangsung selama dua tahun, dan "Joan" menjadi sebuah karakter yang sangat detail dengan berbagai hubungan emosional dengan user lainnya. Kemudian menjadi berantakan saat "Joan" menghubungkan salah satu kawan onlinenya untuk terlibat affair dengan Alex.
Trolling pada 1990-an
Referensi awal tentang trolling di Google Usenet archive adalah oleh Mark Miller kepada user lain yang bernama Tad, (1990, February 8). Pada awal 1990-an, frasa "trolling for newbies" menjadi populer di grup Usenet alt.folklore.urban, dimana penggunaannya sedikit berbeda dengan penggunaan istilah tersebut saat ini. Saat itu, istilah ini digunakan sebagai 'inside-joke', biasanya berisi pertanyaan-pertanyaan atau subjek yang sudah sangat usang sehingga cuma user baru yang menanggapinya secara jujur.
Ada lagi yang mengembangkan istilah tersebut untuk mengacu kepada praktik memainkan peran sebagai orang yang sangat kurang informasi atau salah arah, bahkan dalam newsgroup dimana orang tersebut bukan merupakan pengikut aktif, namun sering ditekankan bahwa hal ini hanya mengacu pada usaha-usaha yang dilakukan utnuk mencapai tujuan tertentu, bukan hanya provokasi sederhana biasa. Dalam konteks ini, istilah troll biasanya mengacu pada aksinya, bukan pelakunya. Dalam literatur yang lebih serius, praktik trolling pertama kali didokumentasikan oleh Judith Donath (1999), yang menggunakan beberapa contoh anekdot dari berbagai newsgroup Usenet dalam diskusinya. Paper Donath memaparkan keambiguan identitas dalam "virtual community"

C.    Tujuan menjadi internet trolling

1. Untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan (walaupun negatif)
2. Sebagai sumber pelampiasan amarah
3. Mendapatkan sensasi ketika memecah belah percakapan
4. Sabotase komunitas yang tidak disukai (sebagai kompetitor)

D.     Ciri-ciri Troll yang mudah dikenali adalah

1. menyerang orang lain, Biasanya memakai kata-kata kasar yang tidak sopan. Mereka sering membawa-bawa nama binatang, menulis sumpah serapah, mengatai orang, dan menuduh tanpa bukti-bukti.
2. Troll banyak menggunakan akun palsu atau memakai identitas orang lain, seperti nama atau foto orang.
3.  Kebanyakan Troll juga bukan anggota lama suatu forum atau situs. Anda bisa melihat akun-akun Troll rata-rata masih baru. Mereka membuat akun hanya untuk tujuan mengacau.
4.  Troll sering terkesan sebagai orang bodoh. Jika ternyata mereka cukup pintar, berarti mereka adalah orang-orang yang memiliki pemikiran yang salah, dan terlalu fanatik pada suatu hal. Screenshot pribadi. Memang sulit untuk tetap sabar menghadapi Troll.

E.     Cara Mengatasi Internet Trolling

1. Pahami siapa yang Anda hadapi.Kebanyakan troll Internet berkembang dalam drama, dan jikamereka menciptakannya, semakin baik. Yang terburuk dari troll adalah psikopat dan narsis yang menolak membiarkan orang lain lolos karena memiliki pendapat yang berbeda dari keinginan mereka sendiri.Bila Anda tahu bahwa Anda tidak berurusan dengan orang normal yang disesuaikan dengan baik, Anda akan dapat menangani situasi dengan tenang.

2. 
Abaikan orang yang tidak sopan itu. Bila seseorang mengeposkan komentar yang tidak sopan atau jahat yang dirancang untuk mendapatkan reaksi marah dari Anda, Anda dapat mencoba untuk mengabaikannya. Ini tidak sering bekerja, tapi ini bisa menjadi pertahanan pertahanan pertama yang baik sebelum Anda beralih kesesuatu yang lebih kuat.


3. Pahami bahwa ini adalah situasi yang tidak menang. Jangan berdiskusi dengan troll internet karena menurut mereka tidak logis.Mereka menolak untuk memperhatikan alasannya. Bahkan jika Anda menyerah (sebenarnya,terutama jika Anda menyerah) sedikit, mereka akan menginginkan lebih.

4. Tahan keinginan untuk beralasan dengan troll. .Menurut sebuah "troll yang direformasi," banyak dari mereka melakukannya karena bosan. Hidup mereka sendiri tidak memiliki rangsangan yang mereka butuhkan untuk tetap tertarik, jadi mereka menimbulkan masalah. Jika Anda memberi mereka apa yang mereka cari, itu hanya akan menjadi lebih buruk, tidak lebih baik. Troll internet tidak peduli dengan alasan. Yang mereka inginkan hanyalah menurunkan Anda dan mendapat reaksi. Mereka akan mengatakan apa pun yang diperlukan untuk melakukan ini, dan mencoba beralasan dengan mereka itu sia-sia.

5. Jangan memberi mereka perhatianyang mereka cari. Apakah mereka merasa diabaikan dalam pekerjaanmereka atau terbengkalai oleh keluarga mereka, mereka menganggap diri mereka tidak mendapatkan perhatian yang pantas mereka dapatkan. Jadi mereka online dan mencari tempatuntuk mendapatkan perhatian yangmereka inginkan. Menjadi seperti gatal mereka tidak bisa menggaruk, dan begitu mereka mendapat reaksi dari orang-orang, mereka terus melakukan perbuatan tercela mereka.

6. Jangan marah. Saat troll datang setelah Anda di Internet, mereka mencoba mendapatkan tanggapannegatif. Membuat marah memberi mereka apa yang mereka inginkan, dan mereka akan melanjutkan perilaku mereka selama mereka mendapatkannya. Sebagian besar dari kita yang pernah mengalami murka troll Internet mengalami momen mendidih darah saat kita ingin memukul. Jika ini terjadi pada Anda, berhenti, menjauhlah dari komputer Anda, tarik napas dalam-dalam, dan ingat bahwa reaksi dari Anda memberi makan troll.

7. Sebutkan sisanya dari penonton. Jika Anda merasa perlu untuk mengatasi situasi ini, jangan berbicara langsung dengan troll dalam komentar Anda, Sebaliknya, sebutkan situasinya kepada kelompok tersebut. Anda mungkin menulis sesuatu seperti ini: "Saya melihat bahwa kita memiliki troll di antara kita. Mari melanjutkan diskusi kita dengan orang dewasa, dengan hormat." Mungkin ada lebih dari satu troll, tapi jika kelompok itu layak tinggal bersama, Anda akan menemukan orang lain yang setuju dengan Anda.

8.  Berperanglah ke teman dan orang yang Anda percaya. Anda mungkin telah terdorong ke batas, dan Andamerasa teriakan. Alih-alih mengarahkannya ke troll yang akanmenyukai apa pun yang Anda katakan, berpaling ke teman atau orang lain yang Anda percaya dan biarkan mereka tahu bahwa Anda akan melepaskannya. Kebanyakan orang yang peduli dengan Anda akan menawarkan simpati mereka dan bahkan mungkin memberi tahu Anda tentang pengalaman mereka sendiri dengan troll Internet. Penting untuk mengetahuikapan harus berhenti. Ventilasi bisa membuat Anda merasa lebih baik, tapi jangan terlalu terbawa, atau orang yang Anda ajak bicara bisa berbalik dan berlari saat melihat Anda datang.

9. Blokir troll. Bila seseorang mengeposkan komentar negatif tentang Anda atau sesuatu yang Anda katakan di media sosial, sebagian besar waktu Anda memiliki kekuatan untuk memblokirnya. Mereka mungkin terus memposting hal-hal ini, tapi mereka kehilangan sebagian dari kekuatan mereka saat Anda tidak dapat melihat apapun itu. Akhirnya mereka akan beralih ke orang lain, untuk menemukan apa yang mereka cari.

10.   Laporkan trollnya. Jika Anda berada di forum publik atau situs media sosial dengan moderator, laporkan troll tersebut. Sebagian besar situs tidak akan mentolerir komentar yang tidak menghormati dari salah satu peserta, dan mereka memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Tidak ada yang berhak mengancam Anda atau orang yang Anda asosiasikan. Jika Anda merasa seolah-olah berada dalam bahaya atau bahaya, laporkan troll ke polisi atau seseorang yang dapat melindungi Anda.

F.     Contoh kasus

    Awkarin Selebgram yang diperbincangkan di media sosial . Apapun kegiatan Awkarin yang berkaitan dengan media sosial pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Disini posisi Awkarin memang bisa dikatakan sebagai biang provokasi karena bagi netizen foto-foto yang diupload oleh awkarin dimedia sosialnya tidak patut diupload ke media sosial, bahkan jika Awkarin mengupload foto yang tidak ada unsur “trolling” foto tersebut tetap akan memunculkan tolling.
Awkarin mengupload foto di akun instagram pribadinya

          
Description: C:\Users\Den_Bagus\Documents\hq\smester 5\download.png                                                    
I



Description: C:\Users\Den_Bagus\Documents\hq\smester 5\download (1).png

     Analisis :
Foto (1) diatas adalah salah satu contoh foto yang di upload awkarin yang ia upload di akun instagram pribadinya dan foto (2) adalah trolls atau pemprovokasi yang muncul akibat upload_an foto dari awkarin
Jadi di kasus ini bisa awkarin dikatakan sebagai trolls atau pemprovokasi yang mengakibatkan troll lainnya muncul dari dampak awkarin mengupload foto tersebut.
Awkarin mengupload foto diakun instagram pribadinya
Description: C:\Users\Den_Bagus\Documents\hq\smester 5\download (2).png
Description: C:\Users\Den_Bagus\Documents\hq\smester 5\download (3).png 
Description: C:\Users\Den_Bagus\Documents\hq\smester 5\download (4).png
Analisis : Foto diatas adalah foto awkarin yang menggunakan hijab, walaupun mengupload foto berhijab awkarin tetap mendapatkan hujatan dari trolls atau pemprovokasi yang komentar dikolom komentar akun instagram pribadi awkarin. Seperti difoto.
Ini berbeda dengan kasus pertama, kalau dikasus pertama awkarin bisa dikatakan sebagai trolls karena mengupload foto yang menimbulkan troll atau provokasi di akun media sosialnya. Namun, pada kasus yang kedua ini awkarin tidak sebagai trolls atau pemprovokasi karena fotonya yang tidak baik atau menimbulkan hujatan. Tapi dalam komentar foto ini awkarin tetap mendapatkan hujan dari akun pribadi seseorang yang menjadi trolls dengan menghujan awkarin.


                           BAB III
                        PENUTUP

Jadi, trolling merupakan postingan berupa tulisan atau pesan yang ada pada media sosial. Dimana pengguna sosial media memancing amarah pengguna lainnya. Pengguna yang melakukan trolling atau lebih sering di panggil trolls hanya untuk kesenangan diri mereka sendiri saat yang di trolling merasa marah.
            Para trolls beranggapan bahwa trolling mereka hanya humor dan kenakalan biasa dalam kebebasan berbicara. Namun, hal ini seringkali menjadi permasalahan serius karena tak jarang kalimat yang ditulis menggunakan kata-kata pedas yang menimbulkan keresahan pada korban trolling. Sehingga permasalahan ini tidak hanya di media sosial saja namun bisa berlanjut ke ranah peradilan.






Daftar Pustaka

Ronald Hutasuhut, Apakah Internet Troll itu?
Lunariastodio, cara mengahadapi penganggu internet https://lunariastudio.com/2015/02/11/cara-menghadapi-pengganggu-di-internet-internet-troll/. diakses 26 Januari 2018 Pukul 10:03
todorinfor.com Bagaimana Mengatasi Troll Internet https://id.todoinfor.com/how-to-deal-with-internet-trolls-2216. Diakses 27 November 2018 Pukul 18:06

Komentar